Senin, 25 Februari 2019

ANALISIS DOMAIN PSIKOMOTOR SEBAGAI FAKTOR RELEVAN DALAM MEMAHAMI KONSEP MATEMATIKA


ANALISIS DOMAIN PSIKOMOTOR SEBAGAI FAKTOR RELEVAN DALAM MEMAHAMI KONSEP MATEMATIKA

Domain psikomotor terkait dengan aktivitas otot dengan gerakan tubuh, anggota badan, atau bagian tubuh lainnya (misalnya jari) yang diperlukan untuk tindakan tertentu.
Mkpa (1984) menjelaskan bahwa domain psikomotor "peduli tentang hasil dalam bidang keterampilan dan tindakan manipulatif yang memerlukan koordinasi neuromuskuler". (hal.90).
Gay (1980) percaya bahwa domain psikomotorik memerlukan kemampuan fisik, yang melibatkan keterampilan otot atau motorik, manipulasi objek atau koordinasi neuromuskuler.
Dalam mengajar matematika, itu harus "valid". Psikomotor kemudian menjadi alat yang penting dan krusial untuk memahami matematika.
Dalam jurnal Khasanah, Vertye Noor (2015) Implementasi Discovery Learning Berbasis Think Talk Write Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Aspek Peluang (Ptk Pembelajaran Matematika Kelas X Tekstil B Semester Genap Smkn 9 Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015). Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hasil belajar diklasifikasikan menjadi 3 ranah, yaitu ranah kognitif yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual meliputi aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Ranah afektif yang berkenaan dengan sikap meliputi aspek penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, dan organisasi. Ranah psikomotorik yang berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak. Adapun nilai hasil ulangan matematika dapat merepresentasikan hasil belajar matematika pada ranah kognitif, sedangkan kemampuan siswa dalam bertanya/mengemukakan pendapat dapat mererpesentasikan aspek dari hasil belajar ranah afektif. Sebagai bentuk representasi dari hasil belajar ranah psikomotorik terlihat dari sebelum bertanya/mengemukakan pendapat siswa mengangkat tanganya. Jurnal diatas berkesinambungan dengan pendapat yang disampaikan oleh Dr. Rev. A.C. Egereonu

Pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda dan menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Pembentukan konsep adalah tindakan membentuk kategori-kategori baru, sedangkan dalam pemahaman konsep kategori-kategori tersebut sudah ada sebelumnya. Pembentukan konsep menggunakan proses berpikir induktif, sedangkan pemahaman konsep menggunakan proses berpikir deduktif. Salah satu prosedur yang dikembangkan untuk menolong guru dalam merencanakan urutan-urutan pengajaran konsep adalah melakukan analisis konsep. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisis konsep adalah: (a) nama konsep, (b) atribut-atribut kriteria dan atribut-atribut variabel, (c) definisi konsep, (d) contoh-contoh dan noncontoh, dan (e) hubungan konsep dengan konsep lain.
Terdapat banyak cara yang dapat ditempuh dalam mengajarkan konsep matematika, antara lain: (1) Pendefinisian (defining), (2) Menyatakan syarat cukup, (3) Memberi contoh, (4) Memberi contoh disertai alasannya, (5) Memberi kesamaan atau perbedaan objek yang dinyatakan konsep, (5) Memberi suatu contoh penyangkal., (6) Menyatakan syarat perlu, (7) Menyatakan syarat perlu dan cukup, (8) Memberi bukan contoh, (9) Memberi bukan contoh disertai alasan.
Contoh kasus : Posisi, arah, presisi, dan optimalisasi adalah beberapa alasan mengapa orang menggunakan sudut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Persimpangan jalan dibuat pada sudut sedekat mungkin hingga 90°, jika tidak lebih besar, sehingga jarak pandang lebih mudah saat membelok. Hal ini bermanfaat bagi perencana kota untuk membuat putaran tambahan sehingga ada sudut belok yang lebih besar untuk lalu lintas yang lebih aman. Misalnya, jika mobil harus berbelok tajam 60° ke lalu lintas, kemungkinan besar akan terjadi kecelakaan karena belokan itu sulit. Jika Anda menemukan persimpangan empat arah tegak lurus dengan lampu lalu lintas, kemungkinan akan ada tanda "Jangan Belok Saat Lampu Merah" untuk pengemudi yang akan berada pada sudut tumpul. Akan lebih mudah bagi pengemudi jika jalan dibangun sehingga persimpangan tambahan ditambahkan sehingga mobil dapat berputar sekali pada 150° dan lagi pada 90°.
Berdasarkan contoh kasus diatas, penulis dapat berasumsi bahwa pembentukan konsep dilakukan dengan pemberian contoh langsung yang dapat dikaitan dengan ranah psikomotorik. Misalnya saja pembuatan simulasi persimpangan jalan dengan menggunakan mobil mainan dalam pembelajaran matematika. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bloom (1979) berpendapat bahwa ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Singer (1972) menambahkan bahwa mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah mata pelajaran yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan keterampilan tangan. Keterampilan itu sendiri menunjukkan tingkat keahlian seseorang dalam suatu tugas atau sekumpulan tugas tertentu. (dikutip dari blog guru matematika 
Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.
Penilaian Psikomotorik dicirikan oleh adanya aktivitas fisik dan keterampilan kinerja oleh siswa serta tidak memerlukan penggunaan kertas dan pensil/pena seperti yang dinyatakan oleh Bloom dalam bukunya Ismet Basuki dan Hariyanto yang berjudul Asesmen Pembelajaran. Bloom mengatakan bahwa ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Dengan kata lain, kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotorik adalah praktik di aula/lapangan, di bengkel, dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada ranah kogitif dan afektifnya. Dalam hubungan ini guru melakukan pengamatan untuk menilai dan menentukan apakah siswa sudah terampil atau belum, memerlukan kerja sama kelompok dinilai keterampilan kerja sama siswa serta keterampilan kepemimpinan siswa dan lain sebagainya.
Berdasarkan kutipan diatas Penulis beranggapan bahwa penilaian psikomotorik memerlukan penggunaan kertas dan alat tulis dalam melakukan penilaian psikomotorik matematika. Misalnya ketika siswa dihadapkan dengan permasalahan dalam mencari unsur-unsur bangun ruang, siswa dapat diberi tugas seperti membuat bangun ruang menggunakan kertas kemudian menganalisis dan mengkontruksi unsur-unsur bangun ruang tersebut. Dengan pemberian tugas ini dapat melatih keterampilan psikomotorik dan kognitif siswa.
Untuk melaksanakan pengukuran hasil belajar psikomotor, ada dua hal yang perlu dilakukan, yaitu membuat soal dan membuat perangkat instrument untuk mengamati kinerja peserta didik.Soal untuk hasil belajar psikomotor dapat berupa lembar kerja, lembar tugas, perintah kerja, dan lembar eksperimen.Instrumen untuk mengamati kinerja peserta didik dapat berupa lembar observasi atau portofolio.Lembar observasi adalah lembar yang digunakan untuk mengamati keberadaan yang diamatiLembar observasi dapat berupa daftar cek atau skala penilaian.

Berdasarkan hasil tulisan penulis tentang Domain Psikomotor Sebagai Faktor Relevan Dalam Memahami Konsep Matematika, dapatkah pembaca memberikan komentar ataupun tanggapan berkaitan dengan masalah yang penulis temukan :
1.      Jelaskan contoh lain kegiatan dalam pembelajaran matematika yang menunjukkan bahwa ranah psikomotorik siswa diperlukan dalam pemahaman suatu konsep matematika.

Referensi
Ismet Basuki dan Hariyanto, Asesmen Pembelajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 209-210
Sudaryono, Dasar-dasar evaluasi pembelajaran, (Yogyakarta: Graha ilmu,2012),hlm.49
Jurnal Dr. Rev.A. C. Egereonu, Analysis of psychomotor domain as a relevant factor in the understanding of mathematical concepts


3 komentar:

  1. Kegitan yang Berkaitan dengan ranah psikomotor, Bloom (1979) berpendapat bahwa ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Dalam jurnal yang saya baca saya juga menemukan pendapat lain yaitu Singer (1972) menambahkan pendapat dari bloom bahwa mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah mata pelajaran yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan keterampilan tangan. Keterampilan itu sendiri menunjukkan tingkat keahlian seseorang dalam suatu tugas atau sekumpulan tugas tertentu.

    BalasHapus
  2. Contohnya kemampuan psikomotor yang dibina dalam belajar matematika misalnya berkaitan dengan kemampuan mengukur (dengan satuan tertentu, baik satuan baku maupun tidak baku), menggambar bentuk-bentuk geometri (bangun datar, bangun ruang, garis, sudut,dll) atau tanpa alat. Contoh lainnya, siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus. Kemampuan dalam melukis jaring-jaring kubus secara psikomotor dapat dilihat dari gerak tangan siswa dalam menggunakan peralatan (jangka dan penggaris) saat melukis. Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan (perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan.

    BalasHapus
  3. contohnya menggambar simbol dalam matematika

    BalasHapus

Weekly Journal

Weekly Journal Nama    : Wira Novantri NIM     : P2A918013 Materi Perkulaiahan : Criteria for authentic assessment of mathematics: U...