Minggu, 03 Februari 2019

Evaluasi Proses Pembelajaran Matematika (Identifikasi Masalah)


Permasalahan dalam Proses Pembelejaran Matematika di Salah Satu SMP Swasta
Di Kota Jambi

Identifikasi Masalah
Paradigma pembelajaran matematika saat ini telah berubah dari pembelajaran tradisional (transfer of knowledge) yang berpusat kepada guru menjadi paradigma baru yaitu pembelajaran inovatif (construction of knowledge) yang mengedepankan siswa sebagai pusat dari kegiatan pembelajaran. Hasil observasi proses pembelajaran matematika disalah satu SMP swasta di Kota Jambi pada hari Jum’at tanggal 01 Februari 2019 didapatlah beberapa permasalahan dalam proses pembelajaran tersebut yaitu Sikap pasif siswa sering ditunjukan selama proses belajar, hal ini terlihat dari perilaku siswa yang cenderung hanya berperan sebagai pendengar saja, ketika guru menerangkan mereka justru cenderung diam tanpa ada yang mengajukan pertanyaan, bahkan ketika guru mengajukan sebuah pertanyaan mereka hanya diam, meskipun sebenarnya siswa tidak paham dengan materi yang disampaikan guru, jika ada siswa yang terlibat aktif dalam proses belajar itupun hanya sebagian kecil atau sekitar dua orang saja.

Akar Penyebab Permasalahan
Setelah mengamati dan menelaah, penulis memiliki beberapa anggapan bahwa Ketakutan-ketakutan dari siswa tidak hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri, melainkan kurangnya kemampuan guru dalam menciptakan situasi yang dapat membawa siswa tertarik pada matematika. Guru kurang tepat dalam memilih strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar matematika. Guru juga kurang melibatkan siswa dalam mengikuti setiap tahap pembelajaran. Siswa hanya pasif dalam menerima pelajaran dari guru.
Proses belajar mengajar matematika yang baik adalah guru harus mampu menerapkan suasana yang dapat membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada, sehingga mereka mampu mencoba memecahkan permasalahanya. Belajar matematika akan lebih bermakna jika anak “mengalaminya“ dengan apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahuinya“.

Solusi dari Permasalahan
Setelah mengidentifikasi akar penyebab masalah peneliti beranggapan guru harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai pemegang otoritas tertinggi akan ilmu yang diajarkannya di kelas. Guru tidak boleh lagi merasa paling hebat di kelas dan siswa dianggap tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, guru menjadi fasilitator yang membimbing siswa ke arah pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri. Melalui paradigma baru tersebut, diharapkan di kelas siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani menyampaikan pendapat dan menerima pendapat orang lain, serta memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Kurangnya keaktifan siswa di dalam kelas dapat terjadi karena model pembelajaran yang digunakan dalam mengajar kurang tepat. Guru dalam melaksanakan proses belajar harus mampu memilih metode dan strategi pembelajaran yang tepat. Dari banyak strategi pembelajaran yang berkembang saat ini salah satu strategi yang dapat merangsang keaktifan siswa didalam kelas adalah Realistic Mathematics Education ( RME ).

Upaya Pencegahan
Guru perlu mendapatkan bimbingan teknis bagaimana mengembangkan kemampuan pedagogi yang mendorong anak untuk mau dan mampu bertanya. Guru juga perlu mendapatkan bimbingan teknis bagaimana guru mendampingi siswanya belajar (mulai dari memantau kemajuan belajarnya, mempertanyakan apa yang dipikirkan dan diperoleh siswa, memberikan umpan balik yang baik, dan mendorong siswa untuk mengembangkan ide kreatifnya secara optimal). Dengan demikian permasalahan mengatasi kepasifan siswa dapat dicegah untuk proses pembelajaran kedepan.


Jambi, 03 Februari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Weekly Journal

Weekly Journal Nama    : Wira Novantri NIM     : P2A918013 Materi Perkulaiahan : Criteria for authentic assessment of mathematics: U...