Permasalahan
dalam Proses Pembelejaran Matematika di Salah Satu SMP Swasta
Di
Kota Jambi
Identifikasi
Masalah
Paradigma pembelajaran
matematika saat ini telah berubah dari pembelajaran tradisional (transfer of knowledge) yang berpusat
kepada guru menjadi paradigma baru yaitu pembelajaran inovatif (construction of knowledge) yang
mengedepankan siswa sebagai pusat dari kegiatan pembelajaran. Hasil observasi
proses pembelajaran matematika disalah satu SMP swasta di Kota Jambi pada hari
Jum’at tanggal 01 Februari 2019 didapatlah beberapa permasalahan dalam proses
pembelajaran tersebut yaitu Sikap pasif siswa sering ditunjukan selama proses
belajar, hal ini terlihat dari perilaku siswa yang cenderung hanya berperan
sebagai pendengar saja, ketika guru menerangkan mereka justru cenderung diam
tanpa ada yang mengajukan pertanyaan, bahkan ketika guru mengajukan sebuah
pertanyaan mereka hanya diam, meskipun sebenarnya siswa tidak paham dengan
materi yang disampaikan guru, jika ada siswa yang terlibat aktif dalam proses
belajar itupun hanya sebagian kecil atau sekitar dua orang saja.
Akar
Penyebab Permasalahan
Setelah mengamati dan
menelaah, penulis memiliki beberapa anggapan bahwa Ketakutan-ketakutan dari
siswa tidak hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri, melainkan kurangnya
kemampuan guru dalam menciptakan situasi yang dapat membawa siswa tertarik pada
matematika. Guru kurang tepat dalam memilih strategi atau metode yang digunakan
dalam proses belajar mengajar matematika. Guru juga kurang melibatkan siswa
dalam mengikuti setiap tahap pembelajaran. Siswa hanya pasif dalam menerima
pelajaran dari guru.
Proses belajar mengajar
matematika yang baik adalah guru harus mampu menerapkan suasana yang dapat
membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada, sehingga mereka mampu
mencoba memecahkan permasalahanya. Belajar matematika akan lebih bermakna jika
anak “mengalaminya“ dengan apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahuinya“.
Solusi
dari Permasalahan
Setelah mengidentifikasi akar penyebab
masalah peneliti beranggapan guru harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai
pemegang otoritas tertinggi akan ilmu yang diajarkannya di kelas. Guru tidak
boleh lagi merasa paling hebat di kelas dan siswa dianggap tidak tahu apa-apa.
Sebaliknya, guru menjadi fasilitator yang membimbing siswa ke arah pembentukan
pengetahuan oleh diri mereka sendiri. Melalui paradigma baru tersebut,
diharapkan di kelas siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani
menyampaikan pendapat dan menerima pendapat orang lain, serta memiliki
kepercayaan diri yang tinggi. Kurangnya keaktifan siswa di dalam kelas dapat
terjadi karena model pembelajaran yang digunakan dalam mengajar kurang tepat.
Guru dalam melaksanakan proses belajar harus mampu memilih metode dan strategi
pembelajaran yang tepat. Dari banyak strategi pembelajaran yang berkembang saat
ini salah satu strategi yang dapat merangsang keaktifan siswa didalam kelas
adalah Realistic Mathematics Education
( RME ).
Upaya
Pencegahan
Guru perlu mendapatkan bimbingan teknis
bagaimana mengembangkan kemampuan pedagogi yang mendorong anak untuk mau dan
mampu bertanya. Guru juga perlu mendapatkan bimbingan teknis bagaimana guru
mendampingi siswanya belajar (mulai dari memantau kemajuan belajarnya,
mempertanyakan apa yang dipikirkan dan diperoleh siswa, memberikan umpan balik
yang baik, dan mendorong siswa untuk mengembangkan ide kreatifnya secara
optimal). Dengan demikian permasalahan mengatasi kepasifan siswa dapat dicegah untuk
proses pembelajaran kedepan.
Jambi, 03 Februari 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar