Prinsip-Prinsip Multimedia Pembelajaran
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Richard E. Mayer (2001) menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Menurut Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Richard E. Mayer (2001) menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Menurut Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran.
12 Prinsip Merancang Multimedia Pembelajaran, yaitu :
Prinsip multimedia berbunyi murid bisa belajar
lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada dari kata-kata saja
(Mayer, 2009:93). Yang dimaksudkan dengan kata-kata adalah teks tercetak di
layar yang dibaca pengguna atau teks ternarasikan yang didengar pengguna
melalui speaker atau headset. Yang dimaksudkan dengan gambar adalah ilustrasi
statis seperti gambar, diagram, grafik, peta, foto, atau gambar dinamis seperti
animasi dan video. Clark & Mayer (2011:70) menggunakan istilah penyajian
multimedia untuk menyebut segala penyajian yang berisi kata-kata dan gambar.
Mayer (2009:93) beralasan bahwa saat kata-kata
dan gambar-gambar disajikan secara bersamaan, siswa punya kesempatan untuk
mengkonstruksi model-model mental verbal dan piktorial dan membangun hubungan
di antara keduanya. Sedangkan jika hanya kata-kata yang disajikan, maka siswa
hanya mempunyai kesempatan kecil untuk membangun model mental piktorial dan kecil
pulalah kemungkinannya untuk membangun hubungan di antara model mental verbal
dan piktorial.
2. Prinsip Keterdekatan
Prinsip keterdekatan terbagi dua, yaitu
keterdekatan ruang atau keterdekatan kata tercetak dengan gambar yang terkait
(Mayer, 2009:119; Clark & Mayer, 2011:92) dan keterdekatan waktu atau
keterdekatan kata-kata ternarasi dengan gambar yang terkait (Mayer, 2009:141;
Clark & Mayer, 2011:102). Prinsip keterdekatan ruang menyatakan bahwa siswa
bisa belajar lebih baik saat kata-kata tercetak dan gambar-gambar yang terkait
disajikan saling berdekatan daripada disajikan saling berjauhan (Mayer,
2009:119). Sedangkan prinsip keterdekatan waktu menyatakan bahwa siswa bisa
belajar lebih baik jika kata-kata ternarasikan dan gambar-gambar yang terkait (animasi
atau video) disajikan pada waktu yang sama (simultan) (Mayer, 2009:141).
Alasan Mayer (2009:119) berkaitan prinsip
keterdekatan ruang adalah saat kata-kata dan gambar terkait saling berdekatan
di suatu layar, maka murid tidak harus menggunakan sumber-sumber kognitif untuk
secara visual mencari mereka di layar itu. Siswa akan lebih bisa menangkap dan
menyimpan mereka bersamaan di dalam memori kerja pada waktu yang sama.
Sedangkan untuk keterdekatan waktu, Mayer (2009:141) beralasan bahwa saat
bagian narasi dan bagian animasi terkait disajikan dalam waktu bersamaan, siswa
lebih mungkin bisa membentuk representasi mental atas keduanya dalam memori
kerja pada waktu bersamaan. Hal ini lebih memungkinkan siswa untuk membangun
hubungan mental antara representasi verbal dan representasi visual.
3. Prinsip Modalitas
Prinsip modalitas menyatakan bahwa siswa bisa
belajar lebih baik dari animasi dan narasi (kata yang terucapkan) daripada dari
animasi dan kata tercetak di layar (Mayer, 2009:197). Berdasarkan teori kognitif
dan bukti riset, Clark & Mayer (2011:117) menyarankan untuk menarasikan
teks daripada menyajikan teks tercetak di layar saat gambar (statis maupun
bergerak) menjadi fokus kata-kata dan saat keduanya disajikan pada waktu yang
bersamaan.
Mayer (2009:197) beralasan bahwa jika
gambar-gambar dan kata-kata sama-sama disajikan secara visual, maka saluran
visual akan menderita kelebihan beban tapi saluran auditori tidak
termanfaatkan. Jika kata-kata disajikan secara auditori, mereka bisa diproses
dalam saluran auditor, sehingga saluran visual hanya memproses gambar.
4. Prinsip Koherensi
Prinsip koherensi menyatakan bahwa siswa bisa
belajar lebih baik jika hal-hal ekstra disisihkan dari sajian multimedia
(Mayer, 2009:167). Prinsip koherensi terbagi atas tiga versi, yaitu
pembelajaran siswa terganggu jika gambar-gambar menarik namun tidak relevan
ditambahkan (Mayer, 2009:170; Clark & Mayer, 2011:159), pembelajaran siswa
terganggu jika suara dan musik menarik namun tidak relevan ditambahkan (Mayer,
2009:181; Clark & Mayer, 2011:153), dan pembelajaran siswa akan meningkat
jika kata-kata yang tidak dibutuhkan disisihkan dari presentasi multimedia
(Mayer 2009:188; Clark & Mayer, 2011:166).
Mayer (2009:167) mengemukakan alasan teoretis
bahwa materi ekstra selalu bersaing memperebutkan sumber-sumber kognitif dalam
memori kerja sehingga bisa mengalihkan perhatian siswa dari materi yang
penting. Hal-hal ekstra juga bisa menganggu proses penataan materi dan bisa
menggiring siswa untuk menata materi di atas landasan tema yang tidak sesuai.
5. Prinsip Redundansi
Prinsip redundansi menyatakan bahwa siswa belajar
lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan teks
tercetak di layar (Mayer, 2009:215). Implikasi dari hal ini adalah saran dari
Clark & Mayer (2011:125) untuk tidak menambahkan teks tercetak di layar ke
gambar yang sedang dinarasikan.
Clark & Mayer (2011:135) mengemukakan alasan
bahwa siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar
yang berkaitan. Saat mata mereka fokus di kata-kata tercetak, siswa tidak bisa
melihat ke gambar yang sedang dinarasikan. Juga, siswa berusaha membandingkan
teks tercetak dengan narasi yang diucapkan sehingga membebani proses kognitif.
Karena itulah, untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak
ditambahkan teks tercetak di layar.
6. Prinsip Personalisasi
Prinsip personalisasi menyarankan agar pengembang
multimedia menggunakan gaya percakapan dalam narasi daripada gaya formal (Clark
& Mayer, 2011:182). Gaya percakapan di antaranya dicapai dengan menggunakan
bahasa orang pertama dan orang kedua serta dengan suara manusia yang ramah.
Clark & Mayer (2011:184) menyatakan bahwa
riset dalam proses diskursus menunjukkan bahwa manusia bekerja lebih keras
untuk memahami materi saat mereka merasa berada dalam percakapan dengan seorang
teman, daripada sekadar menerima informasi. Mengekspresikan informasi dalam
gaya percakapan dapat merupakan cara untuk mempersiapkan proses kognitif siswa.
Clark & Mayer (2011:184) menambahkan pula bahwa instruksi yang mengandung
petunjuk sosial seperti gaya percakapan mengaktifkan perasaan kehadiran sosial,
yaitu perasaan sedang dalam percakapan dengan pengarang. Perasaan kehadiran
sosial ini mengakibatkan pembelajar terlibat dalam proses kognitif yang lebih
dalam selama belajar dengan berusaha lebih keras memahami apa yang pengarang
ucapkan, yang hasilnya adalah hasil belajar yang lebih baik.
7. Prinsip Segmentasi dan Pra Latihan
Prinsip segmentasi menyarankan untuk memecah
materi pelajaran yang besar menjadi segmen-segmen yang kecil (Clark &
Mayer, 2011:207). Saat sebuah materi pembelajaran kompleks, materi itu perlu
dibuat menjadi sederhana dengan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang dapat
diatur kemunculannya.
Clark & Mayer (2011:210) beralasan bahwa saat
siswa menerima sajian yang berkelanjutan dan berisi konsep-konsep yang saling
berhubungan, hasilnya adalah sistem kognitif menjadi kelebihan muatan, terlalu
banyak pemrosesan yang dibutuhkan. Siswa tidak mempunyai kapasitas kognitif
yang cukup untuk dilibatkan dalam pemrosesan esensial yang dibutuhkan untuk
memahami materi tersebut. Solusi masalah di atas adalah membagi-bagi materi
pelajaran menjadi beberapa bagian yang dapat diatur, misalnya dengan memberi
tombol “Lanjutkan”.
Prinsip pra-latihan menyarankan untuk memastikan
siswa mengetahui nama dan karakteristik konsep-konsep penting (Clark &
Mayer, 2011:212). Sebelum siswa belajar proses atau mengerjakan latihan pada
suatu multimedia interaktif, hendaknya siswa diberi materi konsep-konsep
penting berkaitan dengan proses yang akan dipelajari atau latihan yang akan
dikerjakan. Contohnya, sebelum siswa melihat video demonstrasi cara membuat
tabel basis data, siswa perlu mengetahui apa itu tabel, field, dan primary
key.
8. Prinsip Interaktivitas
Orang belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas makin tinggi.
9.Prinsip Sinyal
Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.
Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.
10. Prinsip
Perbedaan Individu
9 prinsip tersebut berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas visual tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks dan narasi plus visual berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks, visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
11. Prinsip
Praktek
Interaksi adalah hal terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang dipelajari.
12. Pengandaian
Menjelaskan materi dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar
Berdasarkan pembahasan prinsip-prinsip multimedia menurut Mayer, muncul beberapa permasalahan bagi penulis diantaranya:
Penggunaan dan desain multimedia yang efektif dan efisien, tentu saja berdasarkan prinsip-prinsip diatas. Sebutkan dan Jelaskan contoh multimedia Pembelajaran Matematika yang menggunakan 12 prinsip-prinsip diatas, dan jelaskan secara singkat prinsip penggunaannya (Jawaban pembaca dijadikan referensi bagi penulis dalam penerapan multimedia dalam pembelajaran Matematika)
Dunia pendidikan dewasa memasuki
era dunia media, di mana kegiatan pembelajaran menuntut dikuranginya metode
ceramah dan diganti dengan pemakaian banyak multimedia. Lebih-lebih pada
kegiatan pembelajaran saat ini menekankan pada keterampilan proses dan
aktif learning. Masalahnya pada saat ini masih banyak pendidik yang enggan memanfaatkan multimedia sebagai penunjang pembelajaran. Keengganan tersebut dikarenakan alasan penggunaan multimedia yang cukup repot, memerlukan persiapan, apalagi menggunakan peralatan elektronik seperti video atau komputer. Bagaimana pendapat pembaca terkait masalah diatas, bukankah pada prinsipnya penggunaan multimedia sangat membantu penyerapan informasi yang kompleks seperti yang dikatakan prinsip keterdekatan waktu menyatakan bahwa siswa bisa
belajar lebih baik jika kata-kata ternarasikan dan gambar-gambar yang terkait (animasi
atau video) disajikan pada waktu yang sama (simultan) (Mayer, 2009:141).
Sumber:
Mayer, R. E. 2001.Cognitive Theory of Multimedia Learning.
Mayer, R. E., 2009. Multimedia Learning: Prinsip-prinsip dan Aplikasi , Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
1. Gamefication, digunakan untuk semua modalitas belajar baik visual, auditory maupun kinestetik.
BalasHapus2.Masalah tersebut tidak terlepas dari peran kepala sekolah sebagi supervisor jika ada guru yg beralasan demikian maka kepala sekolah sebagai supervisor wajib membina guru tersebut agar kedepannya menjadi lebih berkualitas contohnya mungkin mengikuti diklat
Menanggapi permasalahan pertama, ada banyak sekali comtoh multimedia yang menerapkan 12 prinsip tersebut sekaligus.
BalasHapusContohnya yaitu aplikasi ruang guru, disana disajikan materi ajar yang menggunakan gambar, animasi, video, serta narasi yang dinamis dan dapat dengan mudahbdipahami oleh penggunanya. Untuk penjelasan satu persatu penggunaan kedua belas prinsip tersebut, akan menyusul dalam pertemuan di kelas :D.
Untuk masalah kedua, saya berpendapat bahwa permasalahan tersebut bisa disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: dari pemerintah, apabila pemerintah tdk melakukan pelatihan yang mendalam kpd para guru mengenai multomedia pembelajaran, serta tidak meratanya kemajuan teknologi pada sekolah sekolah, terumata di daerah). Kemudian dari guru, sebenarnya sudah banyak sekali kemudahan pada zaman sekarang, sudah banyak youtuber yg mempraktikkan bagaimana cara membuat multimedia yg baik dan menarik, guru juga bisa mendownload media2 yang tersedia di internet untuk digunakan sebagai referensi..
Berdasarkan pertanyaan pertama dari penulis, menurut saya multimedia Pembelajaran Matematika yang menggunakan 12 prinsip-prinsip desain multimedia contohnya yaitu macromedia flash. dimana dengan menggunakan macromedia flash kita bisa membuat materi pembelajaran menjadi menarik, efektif dan efisien dengan mencantumkan teks,gambar,animasi sederhana,video, audio ataupun efek2 khusus lainnya.
BalasHapusmisalnya kita membuat materi pembelajaran tentang bangun ruang dengan menggunakan macromedia flas.
-pada saat membuat materi tersebut kita mencantumkan kata-kata (defenisi bangun ruang), bukan hanya berupa kata-kata saja tetapi kita juga melampirkan contoh bangun ruang dalam bentuk gambar. dari sini dapat kita lihat bahwa kita telah menggunakan prinsip multimedia.
-pada saat membuat materi tersebut kita juga menyajikan kata-kata tercetak dan gambar-gambar yang terkait disajikan saling berdekatan ini telah menunjukkan bahwa kita telah menggunakan prinsip keterdekatan ruang,
Saya mencoba membantu permasalahan anda
BalasHapus1. Ada banyak contoh multimedia yang menerapkan 12 prinsip tersebut sekaligus.
Seperti aplikasi ruang guru, e-learning (quarper video) disan terdapat materi ajar yang menggunakan gambar, animasi, video, serta narasi yang sangat mmidah dipahami oleh penggunanya atau yang lagi belajar. Untuk satu-satu cukup bnyak juga du gunakan, tapi di tambah dengan strategi-strategi dari guru.
2.dari sudut pandang saya bahwa permasalahan tersebut tergolang dalam beberapa hal seperti dari pemerintah, apabila pemerintah tdk melakukan pelatihan khusus yang mendalam kapada para guru tentang multimedia pembelajaran, serta tidak meratanya kemajuan teknologi pada sekolah sekolah, terumata di daerah. Kemudian dari guru, sebenarnya sudah banyak sekali kemudahan pada zaman sekarang, sudah banyak video tutor youtobe yg mempraktikkan bagaimana cara membuat multimedia yg baik dan menarik, guru juga bisa mengunduh media2 yang tersedia di internet untuk digunakan sebagai referensi.
1. Pada saat sekarang ini sudah banyak contoh multidia yang di kembangkan berdasarkan prinsip2 multimedia contonya aplikasi ruang guru dan banyak lagi contoh2 media yg lainnya...karena multimedia itu sendiri di buat dan di kembangkan berdasarkan prinsip2 yg telah saudari sebut di atas
BalasHapus