Senin, 03 September 2018

Prinsip-Prinsip desain Multimedia Pembelajaran

Prinsip-Prinsip Multimedia Pembelajaran
 
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Richard E. Mayer (2001) menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Menurut Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran.
12 Prinsip Merancang Multimedia Pembelajaran, yaitu :
1. Prinsip Multimedia
Prinsip multimedia berbunyi murid bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada dari kata-kata saja (Mayer, 2009:93). Yang dimaksudkan dengan kata-kata adalah teks tercetak di layar yang dibaca pengguna atau teks ternarasikan yang didengar pengguna melalui speaker atau headset. Yang dimaksudkan dengan gambar adalah ilustrasi statis seperti gambar, diagram, grafik, peta, foto, atau gambar dinamis seperti animasi dan video. Clark & Mayer (2011:70) menggunakan istilah penyajian multimedia untuk menyebut segala penyajian yang berisi kata-kata dan gambar.

Mayer (2009:93) beralasan bahwa saat kata-kata dan gambar-gambar disajikan secara bersamaan, siswa punya kesempatan untuk mengkonstruksi model-model mental verbal dan piktorial dan membangun hubungan di antara keduanya. Sedangkan jika hanya kata-kata yang disajikan, maka siswa hanya mempunyai kesempatan kecil untuk membangun model mental piktorial dan kecil pulalah kemungkinannya untuk membangun hubungan di antara model mental verbal dan piktorial. 

2. Prinsip Keterdekata

Prinsip keterdekatan terbagi dua, yaitu keterdekatan ruang atau keterdekatan kata tercetak dengan gambar yang terkait (Mayer, 2009:119; Clark & Mayer, 2011:92) dan keterdekatan waktu atau keterdekatan kata-kata ternarasi dengan gambar yang terkait (Mayer, 2009:141; Clark & Mayer, 2011:102). Prinsip keterdekatan ruang menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata tercetak dan gambar-gambar yang terkait disajikan saling berdekatan daripada disajikan saling berjauhan (Mayer, 2009:119). Sedangkan prinsip keterdekatan waktu menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika kata-kata ternarasikan dan gambar-gambar yang terkait (animasi atau video) disajikan pada waktu yang sama (simultan) (Mayer, 2009:141).

Alasan Mayer (2009:119) berkaitan prinsip keterdekatan ruang adalah saat kata-kata dan gambar terkait saling berdekatan di suatu layar, maka murid tidak harus menggunakan sumber-sumber kognitif untuk secara visual mencari mereka di layar itu. Siswa akan lebih bisa menangkap dan menyimpan mereka bersamaan di dalam memori kerja pada waktu yang sama. Sedangkan untuk keterdekatan waktu, Mayer (2009:141) beralasan bahwa saat bagian narasi dan bagian animasi terkait disajikan dalam waktu bersamaan, siswa lebih mungkin bisa membentuk representasi mental atas keduanya dalam memori kerja pada waktu bersamaan. Hal ini lebih memungkinkan siswa untuk membangun hubungan mental antara representasi verbal dan representasi visual.

3. Prinsip Modalitas

Prinsip modalitas menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik dari animasi dan narasi (kata yang terucapkan) daripada dari animasi dan kata tercetak di layar (Mayer, 2009:197). Berdasarkan teori kognitif dan bukti riset, Clark & Mayer (2011:117) menyarankan untuk menarasikan teks daripada menyajikan teks tercetak di layar saat gambar (statis maupun bergerak) menjadi fokus kata-kata dan saat keduanya disajikan pada waktu yang bersamaan.

Mayer (2009:197) beralasan bahwa jika gambar-gambar dan kata-kata sama-sama disajikan secara visual, maka saluran visual akan menderita kelebihan beban tapi saluran auditori tidak termanfaatkan. Jika kata-kata disajikan secara auditori, mereka bisa diproses dalam saluran auditor, sehingga saluran visual hanya memproses gambar.

4. Prinsip Koherensi

Prinsip koherensi menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika hal-hal ekstra disisihkan dari sajian multimedia (Mayer, 2009:167). Prinsip koherensi terbagi atas tiga versi, yaitu pembelajaran siswa terganggu jika gambar-gambar menarik namun tidak relevan ditambahkan (Mayer, 2009:170; Clark & Mayer, 2011:159), pembelajaran siswa terganggu jika suara dan musik menarik namun tidak relevan ditambahkan (Mayer, 2009:181; Clark & Mayer, 2011:153), dan pembelajaran siswa akan meningkat jika kata-kata yang tidak dibutuhkan disisihkan dari presentasi multimedia (Mayer 2009:188; Clark & Mayer, 2011:166).

Mayer (2009:167) mengemukakan alasan teoretis bahwa materi ekstra selalu bersaing memperebutkan sumber-sumber kognitif dalam memori kerja sehingga bisa mengalihkan perhatian siswa dari materi yang penting. Hal-hal ekstra juga bisa menganggu proses penataan materi dan bisa menggiring siswa untuk menata materi di atas landasan tema yang tidak sesuai.

5. Prinsip Redundansi

Prinsip redundansi menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215). Implikasi dari hal ini adalah saran dari Clark & Mayer (2011:125) untuk tidak menambahkan teks tercetak di layar ke gambar yang sedang dinarasikan.

Clark & Mayer (2011:135) mengemukakan alasan bahwa siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar yang berkaitan. Saat mata mereka fokus di kata-kata tercetak, siswa tidak bisa melihat ke gambar yang sedang dinarasikan. Juga, siswa berusaha membandingkan teks tercetak dengan narasi yang diucapkan sehingga membebani proses kognitif. Karena itulah, untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak di layar.

6. Prinsip Personalisasi

Prinsip personalisasi menyarankan agar pengembang multimedia menggunakan gaya percakapan dalam narasi daripada gaya formal (Clark & Mayer, 2011:182). Gaya percakapan di antaranya dicapai dengan menggunakan bahasa orang pertama dan orang kedua serta dengan suara manusia yang ramah.

Clark & Mayer (2011:184) menyatakan bahwa riset dalam proses diskursus menunjukkan bahwa manusia bekerja lebih keras untuk memahami materi saat mereka merasa berada dalam percakapan dengan seorang teman, daripada sekadar menerima informasi. Mengekspresikan informasi dalam gaya percakapan dapat merupakan cara untuk mempersiapkan proses kognitif siswa. Clark & Mayer (2011:184) menambahkan pula bahwa instruksi yang mengandung petunjuk sosial seperti gaya percakapan mengaktifkan perasaan kehadiran sosial, yaitu perasaan sedang dalam percakapan dengan pengarang. Perasaan kehadiran sosial ini mengakibatkan pembelajar terlibat dalam proses kognitif yang lebih dalam selama belajar dengan berusaha lebih keras memahami apa yang pengarang ucapkan, yang hasilnya adalah hasil belajar yang lebih baik.

7. Prinsip Segmentasi dan Pra Latihan

Prinsip segmentasi menyarankan untuk memecah materi pelajaran yang besar menjadi segmen-segmen yang kecil (Clark & Mayer, 2011:207). Saat sebuah materi pembelajaran kompleks, materi itu perlu dibuat menjadi sederhana dengan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang dapat diatur kemunculannya.

Clark & Mayer (2011:210) beralasan bahwa saat siswa menerima sajian yang berkelanjutan dan berisi konsep-konsep yang saling berhubungan, hasilnya adalah sistem kognitif menjadi kelebihan muatan, terlalu banyak pemrosesan yang dibutuhkan. Siswa tidak mempunyai kapasitas kognitif yang cukup untuk dilibatkan dalam pemrosesan esensial yang dibutuhkan untuk memahami materi tersebut. Solusi masalah di atas adalah membagi-bagi materi pelajaran menjadi beberapa bagian yang dapat diatur, misalnya dengan memberi tombol “Lanjutkan”.

Prinsip pra-latihan menyarankan untuk memastikan siswa mengetahui nama dan karakteristik konsep-konsep penting (Clark & Mayer, 2011:212). Sebelum siswa belajar proses atau mengerjakan latihan pada suatu multimedia interaktif, hendaknya siswa diberi materi konsep-konsep penting berkaitan dengan proses yang akan dipelajari atau latihan yang akan dikerjakan. Contohnya, sebelum siswa melihat video demonstrasi cara membuat tabel basis data, siswa perlu mengetahui apa itu tabel, field, dan primary key.

8. Prinsip Interaktivitas

Orang belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas makin tinggi.

9.Prinsip Sinyal

Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.

10. Prinsip Perbedaan Individu    

9 prinsip tersebut berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas visual tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks dan narasi plus visual berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks, visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.

11. Prinsip Praktek                               

Interaksi adalah hal terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang dipelajari.

12. Pengandaian

Menjelaskan materi dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar

Berdasarkan pembahasan prinsip-prinsip multimedia menurut Mayer, muncul beberapa permasalahan bagi penulis diantaranya:

Penggunaan dan desain multimedia yang efektif dan efisien, tentu saja berdasarkan prinsip-prinsip diatas. Sebutkan dan Jelaskan contoh multimedia Pembelajaran Matematika yang menggunakan 12 prinsip-prinsip diatas, dan jelaskan secara singkat prinsip penggunaannya (Jawaban pembaca dijadikan referensi bagi penulis dalam penerapan multimedia dalam pembelajaran Matematika) 



Dunia pendidikan dewasa memasuki era dunia media, di mana kegiatan pembelajaran menuntut dikuranginya metode ceramah dan diganti dengan pemakaian banyak multimedia. Lebih-lebih pada kegiatan pembelajaran saat ini menekankan pada keterampilan proses dan aktif learning. Masalahnya  pada saat ini masih banyak pendidik yang enggan memanfaatkan multimedia sebagai penunjang pembelajaran. Keengganan tersebut dikarenakan alasan penggunaan multimedia yang cukup repot, memerlukan persiapan, apalagi menggunakan peralatan elektronik seperti video atau komputer. Bagaimana pendapat pembaca terkait masalah diatas, bukankah pada prinsipnya penggunaan multimedia sangat membantu penyerapan informasi yang kompleks seperti yang dikatakan prinsip keterdekatan waktu menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika kata-kata ternarasikan dan gambar-gambar yang terkait (animasi atau video) disajikan pada waktu yang sama (simultan) (Mayer, 2009:141).

 
 
Sumber:
Mayer, R. E. 2001.Cognitive Theory of Multimedia Learning.
Mayer, R. E., 2009. Multimedia Learning: Prinsip-prinsip dan Aplikasi , Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

5 komentar:

  1. 1. Gamefication, digunakan untuk semua modalitas belajar baik visual, auditory maupun kinestetik.
    2.Masalah tersebut tidak terlepas dari peran kepala sekolah sebagi supervisor jika ada guru yg beralasan demikian maka kepala sekolah sebagai supervisor wajib membina guru tersebut agar kedepannya menjadi lebih berkualitas contohnya mungkin mengikuti diklat

    BalasHapus
  2. Menanggapi permasalahan pertama, ada banyak sekali comtoh multimedia yang menerapkan 12 prinsip tersebut sekaligus.
    Contohnya yaitu aplikasi ruang guru, disana disajikan materi ajar yang menggunakan gambar, animasi, video, serta narasi yang dinamis dan dapat dengan mudahbdipahami oleh penggunanya. Untuk penjelasan satu persatu penggunaan kedua belas prinsip tersebut, akan menyusul dalam pertemuan di kelas :D.

    Untuk masalah kedua, saya berpendapat bahwa permasalahan tersebut bisa disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: dari pemerintah, apabila pemerintah tdk melakukan pelatihan yang mendalam kpd para guru mengenai multomedia pembelajaran, serta tidak meratanya kemajuan teknologi pada sekolah sekolah, terumata di daerah). Kemudian dari guru, sebenarnya sudah banyak sekali kemudahan pada zaman sekarang, sudah banyak youtuber yg mempraktikkan bagaimana cara membuat multimedia yg baik dan menarik, guru juga bisa mendownload media2 yang tersedia di internet untuk digunakan sebagai referensi..

    BalasHapus
  3. Berdasarkan pertanyaan pertama dari penulis, menurut saya multimedia Pembelajaran Matematika yang menggunakan 12 prinsip-prinsip desain multimedia contohnya yaitu macromedia flash. dimana dengan menggunakan macromedia flash kita bisa membuat materi pembelajaran menjadi menarik, efektif dan efisien dengan mencantumkan teks,gambar,animasi sederhana,video, audio ataupun efek2 khusus lainnya.
    misalnya kita membuat materi pembelajaran tentang bangun ruang dengan menggunakan macromedia flas.
    -pada saat membuat materi tersebut kita mencantumkan kata-kata (defenisi bangun ruang), bukan hanya berupa kata-kata saja tetapi kita juga melampirkan contoh bangun ruang dalam bentuk gambar. dari sini dapat kita lihat bahwa kita telah menggunakan prinsip multimedia.
    -pada saat membuat materi tersebut kita juga menyajikan kata-kata tercetak dan gambar-gambar yang terkait disajikan saling berdekatan ini telah menunjukkan bahwa kita telah menggunakan prinsip keterdekatan ruang,

    BalasHapus
  4. Saya mencoba membantu permasalahan anda
    1. Ada banyak contoh multimedia yang menerapkan 12 prinsip tersebut sekaligus.
    Seperti aplikasi ruang guru, e-learning (quarper video) disan terdapat materi ajar yang menggunakan gambar, animasi, video, serta narasi yang sangat mmidah dipahami oleh penggunanya atau yang lagi belajar. Untuk satu-satu cukup bnyak juga du gunakan, tapi di tambah dengan strategi-strategi dari guru.

    2.dari sudut pandang saya bahwa permasalahan tersebut tergolang dalam beberapa hal seperti dari pemerintah, apabila pemerintah tdk melakukan pelatihan khusus yang mendalam kapada para guru tentang multimedia pembelajaran, serta tidak meratanya kemajuan teknologi pada sekolah sekolah, terumata di daerah. Kemudian dari guru, sebenarnya sudah banyak sekali kemudahan pada zaman sekarang, sudah banyak video tutor youtobe yg mempraktikkan bagaimana cara membuat multimedia yg baik dan menarik, guru juga bisa mengunduh media2 yang tersedia di internet untuk digunakan sebagai referensi.

    BalasHapus
  5. 1. Pada saat sekarang ini sudah banyak contoh multidia yang di kembangkan berdasarkan prinsip2 multimedia contonya aplikasi ruang guru dan banyak lagi contoh2 media yg lainnya...karena multimedia itu sendiri di buat dan di kembangkan berdasarkan prinsip2 yg telah saudari sebut di atas

    BalasHapus

Weekly Journal

Weekly Journal Nama    : Wira Novantri NIM     : P2A918013 Materi Perkulaiahan : Criteria for authentic assessment of mathematics: U...