ANALISIS
DOMAIN PSIKOMOTOR SEBAGAI FAKTOR RELEVAN DALAM MEMAHAMI KONSEP MATEMATIKA
Domain psikomotor
terkait dengan aktivitas otot dengan gerakan tubuh, anggota badan, atau bagian
tubuh lainnya (misalnya jari) yang diperlukan untuk tindakan tertentu.
Mkpa (1984) menjelaskan
bahwa domain psikomotor "peduli tentang hasil dalam bidang keterampilan
dan tindakan manipulatif yang memerlukan koordinasi neuromuskuler".
(hal.90).
Gay (1980) percaya
bahwa domain psikomotorik memerlukan kemampuan fisik, yang melibatkan
keterampilan otot atau motorik, manipulasi objek atau koordinasi neuromuskuler.
Dalam mengajar
matematika, itu harus "valid". Psikomotor kemudian menjadi alat yang
penting dan krusial untuk memahami matematika.
Dalam jurnal Khasanah, Vertye Noor (2015) Implementasi Discovery Learning Berbasis Think Talk Write Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Aspek Peluang (Ptk Pembelajaran
Matematika Kelas X Tekstil B Semester Genap Smkn 9 Surakarta Tahun Ajaran
2014/2015). Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hasil belajar
diklasifikasikan menjadi 3 ranah, yaitu ranah kognitif yang berkenaan dengan
hasil belajar intelektual meliputi aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi,
analisis, sintesis dan evaluasi. Ranah afektif yang berkenaan dengan sikap
meliputi aspek penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, dan organisasi.
Ranah psikomotorik yang berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak.
Adapun nilai hasil ulangan matematika dapat merepresentasikan hasil belajar
matematika pada ranah kognitif, sedangkan kemampuan siswa dalam
bertanya/mengemukakan pendapat dapat mererpesentasikan aspek dari hasil belajar
ranah afektif. Sebagai bentuk representasi dari hasil belajar ranah
psikomotorik terlihat dari sebelum bertanya/mengemukakan pendapat siswa
mengangkat tanganya.
Jurnal
diatas berkesinambungan dengan pendapat yang disampaikan oleh Dr. Rev. A.C.
Egereonu
Pembentukan
konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda
dan menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Pembentukan konsep adalah
tindakan membentuk kategori-kategori baru, sedangkan dalam pemahaman konsep
kategori-kategori tersebut sudah ada sebelumnya. Pembentukan konsep menggunakan
proses berpikir induktif, sedangkan pemahaman konsep menggunakan proses
berpikir deduktif. Salah satu prosedur yang dikembangkan untuk menolong guru
dalam merencanakan urutan-urutan pengajaran konsep adalah melakukan analisis
konsep. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisis konsep adalah:
(a) nama konsep, (b) atribut-atribut kriteria dan atribut-atribut variabel, (c)
definisi konsep, (d) contoh-contoh dan noncontoh, dan (e) hubungan konsep
dengan konsep lain.
Terdapat
banyak cara yang dapat ditempuh dalam mengajarkan konsep matematika, antara
lain: (1) Pendefinisian (defining), (2) Menyatakan syarat cukup, (3) Memberi
contoh, (4) Memberi contoh disertai alasannya, (5) Memberi kesamaan atau
perbedaan objek yang dinyatakan konsep, (5) Memberi suatu contoh penyangkal.,
(6) Menyatakan syarat perlu, (7) Menyatakan syarat perlu dan cukup, (8) Memberi
bukan contoh, (9) Memberi bukan contoh disertai alasan.
Contoh kasus : Posisi,
arah, presisi, dan optimalisasi adalah beberapa alasan mengapa orang menggunakan
sudut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Persimpangan jalan dibuat pada sudut
sedekat mungkin hingga 90°, jika tidak lebih besar, sehingga jarak pandang
lebih mudah saat membelok. Hal ini bermanfaat bagi perencana kota untuk membuat
putaran tambahan sehingga ada sudut belok yang lebih besar untuk lalu lintas
yang lebih aman. Misalnya, jika mobil harus berbelok tajam 60° ke lalu lintas,
kemungkinan besar akan terjadi kecelakaan karena belokan itu sulit. Jika Anda
menemukan persimpangan empat arah tegak lurus dengan lampu lalu lintas,
kemungkinan akan ada tanda "Jangan Belok Saat Lampu Merah" untuk
pengemudi yang akan berada pada sudut tumpul. Akan lebih mudah bagi pengemudi
jika jalan dibangun sehingga persimpangan tambahan ditambahkan sehingga mobil
dapat berputar sekali pada 150° dan lagi pada 90°.
Berdasarkan
contoh kasus diatas, penulis dapat berasumsi bahwa pembentukan konsep dilakukan
dengan pemberian contoh langsung yang dapat dikaitan dengan ranah psikomotorik.
Misalnya saja pembuatan simulasi persimpangan jalan dengan menggunakan mobil
mainan dalam pembelajaran matematika. Hal ini sesuai dengan apa yang
disampaikan oleh Bloom (1979) berpendapat bahwa ranah
psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui
keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Singer (1972)
menambahkan bahwa mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah mata
pelajaran yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi
fisik dan keterampilan tangan. Keterampilan itu sendiri menunjukkan tingkat
keahlian seseorang dalam suatu tugas atau sekumpulan tugas tertentu. (dikutip
dari blog guru matematika
Ada beberapa ahli yang
menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan
bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung
dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik
berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan
tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap,
(3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan
kerjanya. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil
belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja,
(2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan,
(3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol,
(5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah
ditentukan.
Dari
penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar
psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk.
Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta
didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes
peserta didik.
Penilaian Psikomotorik dicirikan oleh adanya aktivitas fisik
dan keterampilan kinerja oleh siswa serta tidak memerlukan penggunaan kertas
dan pensil/pena seperti yang dinyatakan oleh Bloom dalam bukunya Ismet Basuki
dan Hariyanto yang berjudul Asesmen Pembelajaran. Bloom mengatakan bahwa ranah
psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui
keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Dengan kata
lain, kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotorik
adalah praktik di aula/lapangan, di bengkel, dan praktikum di laboratorium.
Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada ranah kogitif dan afektifnya.
Dalam hubungan ini guru melakukan pengamatan untuk menilai dan menentukan
apakah siswa sudah terampil atau belum, memerlukan kerja sama kelompok dinilai
keterampilan kerja sama siswa serta keterampilan kepemimpinan siswa dan lain
sebagainya.
Berdasarkan kutipan diatas Penulis beranggapan bahwa
penilaian psikomotorik memerlukan penggunaan kertas dan alat tulis dalam
melakukan penilaian psikomotorik matematika. Misalnya ketika siswa dihadapkan
dengan permasalahan dalam mencari unsur-unsur bangun ruang, siswa dapat diberi
tugas seperti membuat bangun ruang menggunakan kertas kemudian menganalisis dan
mengkontruksi unsur-unsur bangun ruang tersebut. Dengan pemberian tugas ini
dapat melatih keterampilan psikomotorik dan kognitif siswa.
Untuk melaksanakan
pengukuran hasil belajar psikomotor, ada dua hal yang perlu dilakukan, yaitu
membuat soal dan membuat perangkat instrument untuk mengamati kinerja peserta
didik.Soal untuk hasil belajar psikomotor dapat berupa lembar kerja, lembar
tugas, perintah kerja, dan lembar eksperimen.Instrumen untuk mengamati kinerja
peserta didik dapat berupa lembar observasi atau portofolio.Lembar observasi
adalah lembar yang digunakan untuk mengamati keberadaan yang diamati. Lembar
observasi dapat berupa daftar cek atau
skala penilaian.
Berdasarkan
hasil tulisan penulis tentang Domain Psikomotor Sebagai Faktor Relevan Dalam
Memahami Konsep Matematika, dapatkah pembaca memberikan komentar ataupun
tanggapan berkaitan dengan masalah yang penulis temukan :
1. Jelaskan
contoh lain kegiatan dalam pembelajaran matematika yang menunjukkan bahwa ranah
psikomotorik siswa diperlukan dalam pemahaman suatu konsep matematika.
Referensi
blog guru matematika https://nurmanspd.wordpress.com/2009/09/17/pengembangan-perangkat-penilaian-psikomotor/)
Ismet
Basuki dan Hariyanto, Asesmen Pembelajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 209-210
Sudaryono, Dasar-dasar
evaluasi pembelajaran, (Yogyakarta: Graha ilmu,2012),hlm.49
Jurnal
Dr. Rev.A. C. Egereonu, Analysis of
psychomotor domain as a relevant factor in the understanding of mathematical
concepts